• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
facebook twitter instagram pinterest Email
Powered by Blogger.

/ha●la●man/


Masing-masing fakultas di Universitas Indonesia memiliki regulasi yang berbeda dalam manajemen pemilahan sampah. Hal ini dapat berpengaruh pada efisiensi pemilahan sampah di UI.

Manajemen pemilahan sampah di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2018 sudah dilakukan hingga mencapai angka 50 persen menurut University of Indonesia Sustainability Report 2018 yang dikeluarkan Green Campus Universitas Indonesia. Sebanyak 50-75% sampah organik dan anorganik dapat dipilah dan diproses dengan baik.  

Tahun ini, UI sudah mulai menyediakan tempat sampah sesuai tiga jenis sampah, yaitu organik, daur ulang, dan sampah sisa.  Menurut Gandjar Kiswanto, Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas Universitas Indonesia (DPPF UI), tiga klasifikasi tersebut disesuaikan dengan kebijakan pemilahan sampah di Kota Depok. Dalam manajemen pemilahan sampah, UI juga bekerja sama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok seperti menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Kota Depok dan sampah residu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

Tidak hanya bekerjasama dengan Pemkot Depok, UI memiliki mekanisme sendiri dalam mengolah sampah organik. Sampah organik berupa daun, rumput, dan sisa makanan akan disetor ke rumah kompos yang ada di Unit Pembuangan Sampah (UPS) UI untuk melalui proses pengomposan.

Data yang diberikan Green Campus Universitas Indonesia menunjukkan adanya keberhasilan dalam pemilahan sampah di UI. Manajemen pemilahan sampah pun sudah direncanakan sesuai dengan kebijakan yang direkomendasikan Pemkot Depok. Akan tetapi, apakah proses pemilahan sampah di UI efisien sejak awal?

Kondisi Pemilahan Sampah di UI

Sampah yang sudah dipilah oleh pihak pemilah dari UI sebelumnya didapatkan dari masyarakat UI yang membuang sampah pada tempat sampah yang disediakan. Jika pembuang sampah sudah membuang sampah sesuai dengan klasifikasinya, proses pemilahan oleh pemilah akan lebih efisien.

Gandjar menyatakan berdasarkan hasil evaluasi internal, terdapat 60-65% masyarakat UI yang membuang sampah mempertimbangkan sesuai dengan klasifikasi atau jenisnya. Menurutnya, angka yang seharusnya ideal mencapai 80%. Ia berpendapat bahwa DPPF UI membutuhkan partisipasi mahasiswa UI untuk mencapai angka tersebut.

Dengan adanya partisipasi dari mahasiswa, proses pemilahan akan lebih efisien. Untuk mendapatkan partisipasi dari mahasiswa, DPPF UI sudah berusaha untuk membuat video sosialisasi yang disampaikan pada acara orientasi mahasiswa baru dan meminta bantuan fakultas untuk mensosialisasikan di agenda orientasi mahasiswa baru setiap fakultas.

Kami mengunjungi beberapa tempat sampah yang ada di dekat halte Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), dan Fakultas Teknik (FT) untuk melihat apakah masyarakat sekitar UI atau setidaknya mahasiswa sudah membuang sampah sesuai klasifikasinya.




Tempat Sampah di Halte Stasiun Universitas Indonesia (29/12/19)

Tempat Sampah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (29/12/19)

Tempat Sampah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (29/12/19)
Tempat Sampah di Fakultas Teknik (29/12/19)

Dari hasil observasi, masih terdapat sampah yang tidak sesuai dengan klasifikasi dari tempat sampah yang disediakan. Kami juga mewawancarai 7 mahasiswa dari fakultas yang berbeda. Sebanyak dua mahasiswa Fakultas Teknik, 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 1 mahasiswa Fakultas Hukum, dan 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, dan 1 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengatakan UI kurang melakukan sosialisasi mengenai pemilahan sampah dan urgensinya. Sedangkan 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan 1 mahasiswa Fakultas Psikologi mengatakan sudah cukup ada sosialisasi.

Afra Bahirah, Koordinator Acara PSAK FISIP UI ketika diwawancara (30/12/2019) mengatakan tidak ada agenda dari fakultas untuk mensosialisasikan pentingnya pemilahan sampah di UI.
Dari hasil observasi dan wawancara, terdapat perbedaan setiap fakultas dalam mensosialisasikan pemilahan sampah berdasarkan klasifikasinya. Salah satu mahasiswa Fakultas Teknik, Jihad Alif berpendapat bahwa tempat sampah yang disediakan membuat bingung karena terlalu banyak jenisnya dan tidak diberikan contoh dari setiap jenis sampah.

Zakianis, Dosen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia ketika diwawancara (23/12/19) berpendapat bahwa masih ada ketidakjelasan di masyarakat mengenai sampah organik dan nonorganik itu sendiri. Menurutnya, lebih baik sampah dibedakan menjadi tiga jenis saja, yaitu sampah busuk, sampah tidak busuk, dan sampah residu.

Jika klasifikasi tersebut diterapkan serentak maka akan memudahkan proses pemilahan sampah. Waktu yang dibutuhkan tidak perlu lama sampai sampah itu membusuk. Manajemen pemilahan sampah membutuhkan kerjasama dari pelaku pembuang sampah, pemilah sampah, beserta pembuat kebijakan.

Keywords
- Manajemen pemilahan sampah
- UI

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Promosi cashback terus digencarkan oleh perusahaan dompet digital demi mendapatkan perhatian konsumen. Fenomena ini memengaruhi perilaku membeli masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Membeli makanan atau barang yang tidak direncanakan sebelumnya. Itulah yang Nathalia Iyuskori (20), seorang mahasiswa, lakukan setelah menjamurnya promosi cashback. Menurutnya, dengan membeli barang saat promosi cashback memberikan keuntungan. “Cashback jadi pertimbangan buat beli barang karena lumayan. Dapet kualitas lebih bagus dengan kualitas yang sama,” ucap Nathalia saat diwawancara pada Sabtu (14/12/2019).

Apa itu Cashback?

Cashback menjamur di berbagai gerai makanan atau gerai lainnya seiring dengan pertumbuhan perusahaan dompet digital di Indonesia. Dikutip dari cashbac.com, cashback adalah penawaran di mana pembeli diberikan persentase pengembalian uang tunai atau uang virtual atau bahkan diberikan suatu produk tetapi dengan memenuhi syarat pembelian tertentu yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara cashback.

Pihak penyelenggara cashback adalah perusahaan dompet digital yang telah mendapatkan perizinan dari Bank Indonesia. Sampai saat ini, terdapat 39 perusahaan dompet digital yang mendapatkan izin operasional. Dengan menjamurnya perusahaan dompet digital, promosi terus ditingkatkan untuk menarik konsumen. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan promosi cashback.

Tren Cashback di Indonesia

Promosi cashback yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan dompet digital memengaruhi tren penggunaan dompet digital di Indonesia. Transaksi dengan menggunakan dompet digital atau uang elektronik meningkat dalam kurun waktu satu tahun. Hal ini terlihat dari data Bank Indonesia mengenai transaksi uang elektronik tahun 2019. Pada Januari-Oktober 2019 terdapat pembayaran digital sebanyak 4,22 miliar transaksi atau naik mencapai 2 kali lipat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu sebanyak 2,28 miliar transaksi.

Menurut laporan 2019 Year in Search Indonesia: Insight for Brands yang dikeluarkan oleh Google, E-Money masuk ke dalam 5 tren pencarian teratas. Terdapat 2,7 kali kenaikan pencarian “dompet digital terbaik” dan 2,9 kali kenaikan pencarian “bagaimana cara membayar menggunakan e-money” dari tahun-tahun sebelumnya.  

Masih dari laporan yang sama, dompet digital mengalami pertumbuhan lebih dari 5 kali setiap tahunnya di Asia Tenggara. Pertumbuhan ini dikarenakan faktor kemudahan, praktis, dan banyaknya promosi (diskon, hadiah, dan cashback).


Cashback Menimbulkan Perilaku Konsumtif
Perilaku yang dilakukan Nathalia dapat dikategorikan sebagai perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif menurut Hamilton dkk. (2005) disebut dengan istilah wasteful consumption yang dimaknai sebagai perilaku konsumen dalam membeli barang dan jasa yang tidak berguna atau mengkonsumsi lebih dari definisi yang masuk akal dari kebutuhan.

Fenomena ini dipertegas lagi dengan pernyataan Daisy Indira Yasmine, Dosen Sosiologi Universitas Indonesia. Menurutnya, cashback merupakan salah satu strategi pelaku bisnis yang mendorong masyarakat untuk menjadi lebih konsumtif. Ia menyebut fenomena itu dengan “conspicious consumption”. “Conspicuous consumption, membuat masyarakat sangat tergantung pada institusi ini lalu membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhannya,” kata Daisy saat diwawancara melalui telepon pada Jumat (13/12/19).

Perilaku konsumtif akibat dompet digital juga ditemukan oleh Pusat Penelitian Politik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) dalam penelitian kepustakaannya. Mereka menyimpulkan bahwa teknologi berperan penting mendorong konsumsi masyarakat menengah Indonesia agar lebih konsumtif. Salah satunya dengan kehadiran uang elektronik (e-money) atau dompet digital.

Perilaku konsumtif memberikan dampak pada individu yaitu tidak stabilnya keuangan pribadi. Tidak hanya itu, perilaku konsumtif juga dapat memengaruhi perekonomian negara seperti terjadinya inflasi.

Daisy menyatakan, perilaku konsumtif dapat dikontrol agar tidak memberikan dampak negatif yang signifikan. “Harus dari control diri sendiri dengan mengerti dan bisa menjadi perilaku konsumsi yang cerdas. Jadi bisa memilih dan memilah mana yang penting mana yang tidak. Jangan cuma ikutan dan dorongan teman. Apakah barang itu yang ingin dia beli, diperlukan atau tidak, apa karena ini cuma karena program cashback aja. Dari sisi pemerintah mungkin regulasi untuk membantu masyarakat tidak menjadi yang terlalu konsumtif,” jelas Daisy.

Keyword:

Perilaku konsumtif, cashback, dompet digital, e-money

Sumber:
Hamilton, dkk. (2005). Wasteful Consumption in Australia. The Australia Institute. Discussion Paper Number 77 March 200.

Raharjo, Wasisto. (2015). Less Cash Society: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia. Jurnal Sosioteknologi, 14, 111.

https://cashbac.com/blog/perbedaan-cashback-dengan-diskon/

https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/informasi-perizinan/uang-elektronik/penyelenggara-berizin/Pages/default.aspx

https://www.bi.go.id/id/statistik/sistem-pembayaran/uang-elektronik/contents/transaksi.aspx

https://www.thinkwithgoogle.com/intl/en-apac/ad-channel/search/year-in-search-2019-indonesia-insights-for-brands/




Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Welcome to my page. As a journalism studies student, i post my writings here. Feel free to discuss about topics on my writings. Cheers!

Popular Posts

  • Yang Ditunggu Saat 'Pulang' ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur
    “Ngangeni”. Itu lah satu kata yang dilontarkan Jaya Indra Hermawan, pemudik asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ketika dita...
  • Beda Manajemen Sampah Tiap Fakultas di UI Sebabkan Inefisiensi Pengolahan Sampah
    Masing-masing fakultas di Universitas Indonesia memiliki regulasi yang berbeda dalam manajemen pemilahan sampah. Hal ini dapat berpengaruh...
  • Unjuk Startup Karya Anak UI di COMPFEST 2019
    Suasana acara COMPFEST 2019 di Balairung Universitas Indonesia (29/9/2019) COMPFEST 2019 memberikan kesempatan kepada Mahasiswa Univ...

Search This Blog

recent posts

Blog Archive

  • December 2019 (2)
  • November 2019 (2)
  • October 2019 (3)
  • September 2019 (2)
  • June 2019 (1)
  • May 2019 (3)
  • April 2019 (2)
  • March 2019 (3)

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Report Abuse

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates