• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
facebook twitter instagram pinterest Email
Powered by Blogger.

/ha●la●man/


Masing-masing fakultas di Universitas Indonesia memiliki regulasi yang berbeda dalam manajemen pemilahan sampah. Hal ini dapat berpengaruh pada efisiensi pemilahan sampah di UI.

Manajemen pemilahan sampah di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2018 sudah dilakukan hingga mencapai angka 50 persen menurut University of Indonesia Sustainability Report 2018 yang dikeluarkan Green Campus Universitas Indonesia. Sebanyak 50-75% sampah organik dan anorganik dapat dipilah dan diproses dengan baik.  

Tahun ini, UI sudah mulai menyediakan tempat sampah sesuai tiga jenis sampah, yaitu organik, daur ulang, dan sampah sisa.  Menurut Gandjar Kiswanto, Direktur Pengelolaan dan Pemeliharaan Fasilitas Universitas Indonesia (DPPF UI), tiga klasifikasi tersebut disesuaikan dengan kebijakan pemilahan sampah di Kota Depok. Dalam manajemen pemilahan sampah, UI juga bekerja sama dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Depok seperti menyetorkan sampah anorganik ke Bank Sampah Kota Depok dan sampah residu ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.

Tidak hanya bekerjasama dengan Pemkot Depok, UI memiliki mekanisme sendiri dalam mengolah sampah organik. Sampah organik berupa daun, rumput, dan sisa makanan akan disetor ke rumah kompos yang ada di Unit Pembuangan Sampah (UPS) UI untuk melalui proses pengomposan.

Data yang diberikan Green Campus Universitas Indonesia menunjukkan adanya keberhasilan dalam pemilahan sampah di UI. Manajemen pemilahan sampah pun sudah direncanakan sesuai dengan kebijakan yang direkomendasikan Pemkot Depok. Akan tetapi, apakah proses pemilahan sampah di UI efisien sejak awal?

Kondisi Pemilahan Sampah di UI

Sampah yang sudah dipilah oleh pihak pemilah dari UI sebelumnya didapatkan dari masyarakat UI yang membuang sampah pada tempat sampah yang disediakan. Jika pembuang sampah sudah membuang sampah sesuai dengan klasifikasinya, proses pemilahan oleh pemilah akan lebih efisien.

Gandjar menyatakan berdasarkan hasil evaluasi internal, terdapat 60-65% masyarakat UI yang membuang sampah mempertimbangkan sesuai dengan klasifikasi atau jenisnya. Menurutnya, angka yang seharusnya ideal mencapai 80%. Ia berpendapat bahwa DPPF UI membutuhkan partisipasi mahasiswa UI untuk mencapai angka tersebut.

Dengan adanya partisipasi dari mahasiswa, proses pemilahan akan lebih efisien. Untuk mendapatkan partisipasi dari mahasiswa, DPPF UI sudah berusaha untuk membuat video sosialisasi yang disampaikan pada acara orientasi mahasiswa baru dan meminta bantuan fakultas untuk mensosialisasikan di agenda orientasi mahasiswa baru setiap fakultas.

Kami mengunjungi beberapa tempat sampah yang ada di dekat halte Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB), dan Fakultas Teknik (FT) untuk melihat apakah masyarakat sekitar UI atau setidaknya mahasiswa sudah membuang sampah sesuai klasifikasinya.




Tempat Sampah di Halte Stasiun Universitas Indonesia (29/12/19)

Tempat Sampah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (29/12/19)

Tempat Sampah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (29/12/19)
Tempat Sampah di Fakultas Teknik (29/12/19)

Dari hasil observasi, masih terdapat sampah yang tidak sesuai dengan klasifikasi dari tempat sampah yang disediakan. Kami juga mewawancarai 7 mahasiswa dari fakultas yang berbeda. Sebanyak dua mahasiswa Fakultas Teknik, 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, 1 mahasiswa Fakultas Hukum, dan 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer, dan 1 mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis mengatakan UI kurang melakukan sosialisasi mengenai pemilahan sampah dan urgensinya. Sedangkan 1 mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dan 1 mahasiswa Fakultas Psikologi mengatakan sudah cukup ada sosialisasi.

Afra Bahirah, Koordinator Acara PSAK FISIP UI ketika diwawancara (30/12/2019) mengatakan tidak ada agenda dari fakultas untuk mensosialisasikan pentingnya pemilahan sampah di UI.
Dari hasil observasi dan wawancara, terdapat perbedaan setiap fakultas dalam mensosialisasikan pemilahan sampah berdasarkan klasifikasinya. Salah satu mahasiswa Fakultas Teknik, Jihad Alif berpendapat bahwa tempat sampah yang disediakan membuat bingung karena terlalu banyak jenisnya dan tidak diberikan contoh dari setiap jenis sampah.

Zakianis, Dosen Kesehatan Lingkungan Universitas Indonesia ketika diwawancara (23/12/19) berpendapat bahwa masih ada ketidakjelasan di masyarakat mengenai sampah organik dan nonorganik itu sendiri. Menurutnya, lebih baik sampah dibedakan menjadi tiga jenis saja, yaitu sampah busuk, sampah tidak busuk, dan sampah residu.

Jika klasifikasi tersebut diterapkan serentak maka akan memudahkan proses pemilahan sampah. Waktu yang dibutuhkan tidak perlu lama sampai sampah itu membusuk. Manajemen pemilahan sampah membutuhkan kerjasama dari pelaku pembuang sampah, pemilah sampah, beserta pembuat kebijakan.

Keywords
- Manajemen pemilahan sampah
- UI

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Promosi cashback terus digencarkan oleh perusahaan dompet digital demi mendapatkan perhatian konsumen. Fenomena ini memengaruhi perilaku membeli masyarakat menjadi lebih konsumtif.

Membeli makanan atau barang yang tidak direncanakan sebelumnya. Itulah yang Nathalia Iyuskori (20), seorang mahasiswa, lakukan setelah menjamurnya promosi cashback. Menurutnya, dengan membeli barang saat promosi cashback memberikan keuntungan. “Cashback jadi pertimbangan buat beli barang karena lumayan. Dapet kualitas lebih bagus dengan kualitas yang sama,” ucap Nathalia saat diwawancara pada Sabtu (14/12/2019).

Apa itu Cashback?

Cashback menjamur di berbagai gerai makanan atau gerai lainnya seiring dengan pertumbuhan perusahaan dompet digital di Indonesia. Dikutip dari cashbac.com, cashback adalah penawaran di mana pembeli diberikan persentase pengembalian uang tunai atau uang virtual atau bahkan diberikan suatu produk tetapi dengan memenuhi syarat pembelian tertentu yang telah ditentukan oleh pihak penyelenggara cashback.

Pihak penyelenggara cashback adalah perusahaan dompet digital yang telah mendapatkan perizinan dari Bank Indonesia. Sampai saat ini, terdapat 39 perusahaan dompet digital yang mendapatkan izin operasional. Dengan menjamurnya perusahaan dompet digital, promosi terus ditingkatkan untuk menarik konsumen. Salah satunya adalah dengan mengeluarkan promosi cashback.

Tren Cashback di Indonesia

Promosi cashback yang dikeluarkan oleh beberapa perusahaan dompet digital memengaruhi tren penggunaan dompet digital di Indonesia. Transaksi dengan menggunakan dompet digital atau uang elektronik meningkat dalam kurun waktu satu tahun. Hal ini terlihat dari data Bank Indonesia mengenai transaksi uang elektronik tahun 2019. Pada Januari-Oktober 2019 terdapat pembayaran digital sebanyak 4,22 miliar transaksi atau naik mencapai 2 kali lipat dari periode yang sama pada tahun sebelumnya yaitu sebanyak 2,28 miliar transaksi.

Menurut laporan 2019 Year in Search Indonesia: Insight for Brands yang dikeluarkan oleh Google, E-Money masuk ke dalam 5 tren pencarian teratas. Terdapat 2,7 kali kenaikan pencarian “dompet digital terbaik” dan 2,9 kali kenaikan pencarian “bagaimana cara membayar menggunakan e-money” dari tahun-tahun sebelumnya.  

Masih dari laporan yang sama, dompet digital mengalami pertumbuhan lebih dari 5 kali setiap tahunnya di Asia Tenggara. Pertumbuhan ini dikarenakan faktor kemudahan, praktis, dan banyaknya promosi (diskon, hadiah, dan cashback).


Cashback Menimbulkan Perilaku Konsumtif
Perilaku yang dilakukan Nathalia dapat dikategorikan sebagai perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif menurut Hamilton dkk. (2005) disebut dengan istilah wasteful consumption yang dimaknai sebagai perilaku konsumen dalam membeli barang dan jasa yang tidak berguna atau mengkonsumsi lebih dari definisi yang masuk akal dari kebutuhan.

Fenomena ini dipertegas lagi dengan pernyataan Daisy Indira Yasmine, Dosen Sosiologi Universitas Indonesia. Menurutnya, cashback merupakan salah satu strategi pelaku bisnis yang mendorong masyarakat untuk menjadi lebih konsumtif. Ia menyebut fenomena itu dengan “conspicious consumption”. “Conspicuous consumption, membuat masyarakat sangat tergantung pada institusi ini lalu membeli sesuatu bukan berdasarkan kebutuhannya,” kata Daisy saat diwawancara melalui telepon pada Jumat (13/12/19).

Perilaku konsumtif akibat dompet digital juga ditemukan oleh Pusat Penelitian Politik – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI) dalam penelitian kepustakaannya. Mereka menyimpulkan bahwa teknologi berperan penting mendorong konsumsi masyarakat menengah Indonesia agar lebih konsumtif. Salah satunya dengan kehadiran uang elektronik (e-money) atau dompet digital.

Perilaku konsumtif memberikan dampak pada individu yaitu tidak stabilnya keuangan pribadi. Tidak hanya itu, perilaku konsumtif juga dapat memengaruhi perekonomian negara seperti terjadinya inflasi.

Daisy menyatakan, perilaku konsumtif dapat dikontrol agar tidak memberikan dampak negatif yang signifikan. “Harus dari control diri sendiri dengan mengerti dan bisa menjadi perilaku konsumsi yang cerdas. Jadi bisa memilih dan memilah mana yang penting mana yang tidak. Jangan cuma ikutan dan dorongan teman. Apakah barang itu yang ingin dia beli, diperlukan atau tidak, apa karena ini cuma karena program cashback aja. Dari sisi pemerintah mungkin regulasi untuk membantu masyarakat tidak menjadi yang terlalu konsumtif,” jelas Daisy.

Keyword:

Perilaku konsumtif, cashback, dompet digital, e-money

Sumber:
Hamilton, dkk. (2005). Wasteful Consumption in Australia. The Australia Institute. Discussion Paper Number 77 March 200.

Raharjo, Wasisto. (2015). Less Cash Society: Menakar Mode Konsumerisme Baru Kelas Menengah Indonesia. Jurnal Sosioteknologi, 14, 111.

https://cashbac.com/blog/perbedaan-cashback-dengan-diskon/

https://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/informasi-perizinan/uang-elektronik/penyelenggara-berizin/Pages/default.aspx

https://www.bi.go.id/id/statistik/sistem-pembayaran/uang-elektronik/contents/transaksi.aspx

https://www.thinkwithgoogle.com/intl/en-apac/ad-channel/search/year-in-search-2019-indonesia-insights-for-brands/




Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Memilih kegiatan kampus yang sesuai karir impian belum tentu membuat kita yakin akan cita-cita itu. 

Berawal dari impian untuk meniti karir di industri televisi, Alma Rizki Shadrina (21), sudah memasuki tahun ketiganya di TVUI. Perempuan yang akrab dipanggil Alma ini sekarang menjabat sebagai produser salah satu program di TVUI.

Perjalanan Alma sampai posisinya sekarang diwarnai suka dan duka. Tahun 2017 silam, berbagai organisasi melakukan rekrutmen terbuka anggota untuk mahasiswa baru. Kebetulan Alma masih terhitung sebagai mahasiswa baru saat itu. Salah satu temannya mengirimkan pengumuman rekrutmen terbuka anggota komunitas televisi di UI, TVUI, kepada Alma. Alma tidak pikir panjang untuk mendaftar, karena ia memang memiliki impian untuk jadi kru TV. Alasan lainnya itu peminatan Industri Kreatif Penyiaran (IKP) yang dia inginkan di jurusannya, Ilmu Komunikasi, sudah tidak ada lagi.

Lalu akhirnya ia diterima sebagai anggota. Perjalanannya sebagai anggota hanya satu semester. Pada semester berikutnya, semester 3, Alma langsung dipercaya menjadi produser program Lingkar UI. Ia merupakan  anggota yang terhitung cepat naik jabatan dibandingkan teman angkatan lainnya. Bekal meliput, mengedit, dan membuat naskah sudah ia  terima saat menjadi anggota. Akhirnya, ia menjadi angkatan 2016 pertama sebagai produser.

Ternyata beban yang Alma emban lebih berat lagi setelah menjadi produser. Ia harus memantau proses dari pra produksi sampai pasca produksi. Akan tetapi bebannya tidak terasa berat karena lingkungan yang membuat Alma nyaman.

(soundbite alma)

Pengalaman yang tidak dapat dilupakan Alma selama menjabat di TVUI adalah ketika meliput ke daerah Ujung Kulon. Ia tidak mengira kalua harus melalui perjalanan yang jauh. Itu di luar dugaannya. Untuk masuk ke daerah itu juga melalui jalan kecil yang sulit dilalui.

Selain itu, ia pernah keluar dari zona nyamannya. Pada saat meliput acara Gelar Jepang Universitas Indonesia 2018, Alma harus memberanikan diri untuk masuk ke rumah hantu untuk mendapatkan gambar yang bagus.

Pengalaman menyenangkan Alma selama tiga tahun di TVUI ternyata tidak membuat ia lebih yakin untuk melanjutkan cita-citanya menjadi kru TV. Memasuki bulan Juli 2019, Alma mulai magang di salah satu stasiun televisi sebagai reporter. Melihat bagaimana industri TV yang sebenarnya, membuat Alma ragu akan cita-citanya yang dulu. Kini, ia justru memikirkan cita-cita yang baru sebagai ahli marketing.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Artception 2019 pameran seni mahasiswa Ilmu Komunikasi UI dilaksanakan di toko Mata Lokal, M Bloc Space, Jakarta Selatan (9/11/19)


Insecurity atau perasaan tidak aman banyak menghantui orang. Kali ini tidak untuk Rani. Ia menjadi lebih berani menunjukkan dirinya melalui karyanya yang dipamerkan di Artception 2019.

Memvisualisasi apa yang ada di pikiran melalui gambar sudah lama digeluti, namun membagikan karyanya ke publik baru berani dilakukan sekarang. Khawatir akan komentar orang lain, Rani Chintya Kasih (21), akhirnya menunjukkan karyanya ke publik di pameran Artception 2019. Butuh waktu sekitar 3 tahun hingga ia berani untuk memamerkan karyanya.

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia itu mulai berpikir untuk mengumpulkan karya ke suatu pameran setelah didorong temannya. “Gua lihat Artception, menarik temanya, tentang insecurity,” ucap Rani. Karya pertama yang ia kumpulkan merupakan karya seni visual berjudul “Epithumeo”.

Dari hasil “iseng” Rani untuk mengumpulkan karya, ternyata ia terpilih untuk menjadi pembuat karya yang akan memamerkan karyanya di acara puncak Artception 2019 pada 8-10 November 2019.  Artception 2019 adalah acara seni yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (HMIK UI).  Acara ini dimaksudkan untuk memberikan wadah kepada mahasiswa Ilmu Komunikasi UI untuk berkarya dengan tema yang telah ditentukan. Jenis karya yang dipamerkan dalam acara ini adalah fotografi, desain grafis, dan puisi. Proses untuk dapat menjadi artist dalam acara ini yaitu mengumpulkan karya, seleksi oleh para pelatih sesuai bidang, pelatihan, lalu pameran.

Berbagai instalasi karya di Artception 2019 (9/11/19)

Tahun ini, Artception 2019 membawa tema “Beyond the Barriers” yaitu mengenai insecurity atau perasaan tidak aman. Hastri Dwi (19), Ketua Pelaksana Artception 2019, saat diwawancarai (9/11/19) mengatakan tema ini diangkat karena sesuai dengan keadaan yang ada pada mahasiswa Ilmu Komunikasi UI. Ia mengetahui hal tersebut ketika menyebarkan jajak pendapat.

Insecurity dirasakan oleh Rani sebagai orang yang selalu memikirkan apa kata orang lain. Menurutnya, melalui acara ini dia dapat membantu dia untuk mengekspresikan apa yang dia rasakan selama ini. Melalui karyanya yang berjudul “The New Life of Palmistry”, ia menumpahkan segala perasaannya. Nama tersebut terinspirasi dari palmistry, yang dahulu kala dipercaya dapat membaca kehidupan orang lain melalui garis tangan. Makna “new life” atau kehidupan baru terinspirasi dari sudut pandang Rani bahwa zaman sekarang banyak orang yang berlagak seperti palmistry. Banyak yang mudah menghakimi kehidupan orang lain.

Karya desain grafis yang ditampilkan pada Artception 2019 (9/11/19)

Karya yang dikerjakan selama kurang lebih tiga minggu itu terpampang di dekat jendela toko Mata Lokal, M Bloc Space, Jakarta Selatan. Terlihat satu tangan bercat kuku merah yang muncul dari lumpur. Tidak seperti biasanya, pada telapak tangan terdapat mulut bergigi taring dengan lidah terjulur.

Karya Rani berjudul "The New Life of Palmistry" di Artception 2019 (9/11/19)
Rani mengatakan makna dari karyanya itu adalah orang-orang yang berlagak seperti palmistry kini ada di media sosial. Mereka dapat menggunakan tangan mereka untuk mengetik sesuatu yang dapat menyakiti orang lain. Kuku bercat merah menggambarkan tangan yang “cantik”, yang bermakna mungkin dari sisi luar manusia itu baik, tetapi belum tentu di dalamnya juga baik. Lumpur menggambarkan asal tangan itu, yang bisa jadi di dalam lumpur itu adalah makhluk yang jahat.

Melalui pameran Artception 2019, Rani merasa perasaannya terwadahi. Menurutnya, pameran ini merupakan titik awalnya untuk terus berkarya. Ia akan lebih sering lagi untuk berkarya lalu memamerkannya kepada publik.

Keyword: Artception, Karya, Insecurity

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Zarry Hendrik (kiri) sebagai pembicara dalam lokakarya penulisan kreatif di Falasido UI Jilid XIII (28/10/2019)


Penulisan kreatif merupakan salah satu rangkaian Falasido UI Jilid XIII dengan mengundang penulis Indonesia, Zarry Hendrik

Menyambut Bulan Bahasa dan Sastra, mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan (FIB) UI mengadakan lokakarya penulisan kreatif di rangkaian akhir Festival Bulan Bahasa Indonesia UI (Falasido UI) Jilid XIII. Pembicara yang diundang yaitu Zarry Hendrik, seorang penulis dan pendiri Kapitulis, suatu jasa rangkai kata.

Lokakarya diselenggarakan di Auditorium Gedung X FIB UI Lantai 3 pada Jumat, 25 Oktober 2019. Zarry membuka lokakarya dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan dasar dari penulisan kreatif. 

Dikutip dari kanetindonesia.com, penulisan kreatif adalah teknik menulis tentang kebenaran dengan daya imajinasi kritis serta gaya tutur khas sehingga menghasilkan karya yang enak dibaca. Begitupun yang dikatakan Zarry pada saat lokakarya berlangsung. Imajinasi menjadi hal fundamental dalam menulis kreatif. Menurutnya, imajinasi juga diikuti oleh hal-hal yang logis.

Selain menjelaskan gambaran besar mengenai penulisan kreatif, Zarry mengajak peserta untuk mulai menulis. "Dengan mulai menulis, seseorang dapat menemukan gaya kepenulisannya," jelas Zarry. 
Memulai menulis untuk penulisan kreatif dapat dilakukan melalui medium yang sering kita jumpai, misalkan media sosial. Kita dapat menuangkan tulisan melalui caption. Akan tetapi, penulisannya harus sesuai dengan kepribadian kita yang sebenarnya, tidak meniru orang lain.

Peserta lokakarya penulisan kreatf di Auditorium Gedung X FIB UI Lantai 3 (25/10/2019)

Selain lokakarya penulisan kreatif, Falasido UI menyelenggarakan beberapa kegiatan lain seperti menulis di daun lontar, seminar bahasa isyarat dan malam apresiasi puisi. Falasido UI diadakan untuk menyambut Bulan Bahasa dan Sastra yang lahir dari Sumpah Pemuda. Acara ini diselenggarakan pada 21-25 Oktober 2019.

"Tema Falasido UI tahun ini yaitu warna warni kita pembentuk identitas bangsa. Apa yang menjadi perbedaan kita itu membentuk identitas kita sebagai sebuah bangsa. Kita seragam karena beragam," kata Ketua Falasido UI Jilid XIII, Rahmat Fadhilah (20) saat diwawancara. Menurut Rahmat, turunan tema tersebut pada penulisan kreatif adalah banyaknya media  yang beragam untuk menyampaikan pesan, akan tetapi ada satu platform digital yang dapat digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan berkaitan dengan penulisan kreatif.

Keywords:
- Bulan Bahasa
- Kreatif
- Falasido
- UI


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pameran karya Hari Seni Rupa FISIP UI 2019 di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan. (11/10/2019)


Di tahun kedua penyelenggaraannya, Hari Seni Rupa FISIP UI 2019 mengangkat isu mengenai konformitas.

Mengaku resah dengan tuntutan sosial terhadap perempuan, Lovea Maharani, 21 tahun, menyalurkannya dalam suatu instalasi yang ia beri nama “Satu Paket Puas Insekuritas Perempuan!” di pameran karya Hari Seni Rupa 2019. Instalasi dengan mayoritas warna merah muda ini menampilkan beberapa benda kebutuhan perempuan seperti pembalut, celana dalam, pil KB, alat tes kehamilan, dan alat kontrasepsi. Mahasiswa jurusan Sosiologi FISIP UI itu menganggap masyarakat memiliki persepsi yang berbeda ketika melihat perempuan membeli benda tersebut.


Karya instalasi "Satu Paket Puas Insekuritas Perempuan!" oleh Lovea Maharani, Mahasiswa Sosiologi FISIP UI (11/10/2019)

Tidak hanya karya Lovea, terdapat 10 karya lain yang dipamerkan dalam acara tersebut. Hari Seni Rupa 2019 merupakan acara seni yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UI 2019. Seluruh karya merupakan hasil dari tangan mahasiswa FISIP UI yang telah mengikuti proses seleksi dan kurasi dari rangkaian acara Hari Seni Rupa 2019. Acara puncaknya yaitu pameran karya yang diselenggarakan pada di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan.


Sudah memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, Hari Seni Rupa tetap pada keyakinan bahwa dengan seni rupa, kita dapat menyampaikan ide dengan berkarya melalui berbagai medium. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini membawa tema “Refleksi diri Akan Konformitas”, sehingga pembuat karya diharapkan dapat merefleksikan apa yang ia rasakan terhadap konformitas. Nanda Flashiela, Ketua Pelaksana Hari Seni Rupa 2019 yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI menjelaskan mengapa konformitas menjadi tema yang diangkat pada Hari Seni Rupa 2019.


Sebelum 11 karya mahasiswa FISIP UI dipamerkan, mereka harus melalui tahap seleksi dan kurasi. Tahap seleksi dilakukan pada awal Mei 2019 dengan menyebarkan formulir berisi pertanyaan terhadap peserta mengenai tema yang diangkat. Setelah itu, mereka melakukan proses wawancara. Tidak ada yang tereleminasi dalam proses seleksi karena tujuan acara ini untuk memperkenalkan seni rupa kepada mahasiswa FISIP yang ingin belajar.

Karya Iona Savalidea (Kiri) dan Abdul Razzak (Kanan) dalam pameran karya Hari Seni Rupa 2019 (11/10/2019)

Setelah itu, para pembuat karya melakukan proses kurasi bersama  Oky Arfie Hutabarat, seorang seniman dan dosen di Institut Kesenian Jakarta. Proses kurasi dilaksanakan dari bulan Mei 2019. Lovea mengaku proses ini membuatnya berani untuk berkarya tanpa membatasi dirinya dan orang lain dalam menginterpretasikan karyanya.

Pameran Hari Seni Rupa 2019 dilaksanakan pada 11-13 Oktober 2019 di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan. Pameran ini menunjukkan hasil karya mahasiswa FISIP setelah melalui proses selama 4 bulan. Acara ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.



Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Salah satu adegan dalam pentas "Gandareva" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)

Teater Paradoks FISIP Universitas Indonesia (UI) kembali menyelenggarakan pentas tunggal tahunan. Kini bertajuk "Gandareva".

Krisis eksistensialisme, itulah isu yang diangkat pentas tunggal "Gandareva" oleh Teater Paradoks FISIP UI tahun ini. Pentas yang sudah dipersiapkan sejak bulan Desember tahun lalu itu diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Rabu, 2 Oktober 2019. Para pemeran yang beradu akting di atas panggung maupun kru merupakan mahasiswa FISIP UI dari berbagai angkatan.

Tepat pukul 8 malam, pementasan diawali dengan adegan seorang suster gereja memimpin doa sekelompok orang, dari yang masih muda sampai yang paling tua di suatu rumah singgah katolik. Tidak ada suara bising, semua fokus berdoa dengan khidmat. Doa selesai. Semua beraktivitas seperti biasa kembali. Ada yang ke dapur untuk minum, ke kamar untuk tidur, dan bersantai sambil bercanda di ruang tengah. 

Semua berubah saat seorang pendonor dana bernama Bisma datang ke rumah singgah. Suasana rumah tidak seperti biasanya, terjadi keributan antar anggota bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Ternyata Bisma memiliki tujuan lain untuk datang ke rumah itu, "mengambil" Amanda. Dia bukanlah manusia, melainkan Genderuwo yang berwujud manusia.

Cerita "Gandareva" terinspirasi dari krisis eksistensialisme dalam lingkungan mahasiswa yang masih belum memahami mengapa mereka ada. Berkaitan dengan isu sosial politik, krisis eksistensialisme yang dekat dengan masalah identitas diri menjadi masalah yang diangkat. 

Unsur horror yang ada dalam pementasan merupakan gambaran yang mewakili rasa ketakutan. Encik Ibnussabil, Pemimpin Produksi Pentas "Gandareva" memberikan penjelasan lebih lanjut




Adegan Amanda (Joan Amanda) mengancam Bisma (Muhammad Galih Aprian) (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)

Pementasan ini juga dinikmati oleh beberapa kalangan. Salah satunya adalah Bintoro Anjar Riadi, 22 tahun, seorang mahasiswa FISIP UI. Menurutnya, pesan yang disampaikan pentas ini sesuai dengan apa yang ia dapatkan di kelas


 

Para pemain pentas "Gandareva" yang merupakan mahasiswa FISIP UI. (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)
Teater Paradoks FISIP UI setiap tahunnya mengadakan pentas tunggal untuk dapat dinikmati oleh publik. Pentas "Gandareva" adalah pentas ke-21 yang telah berhasil diselenggarakan oleh Teater Paradoks FISIP UI.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Demo mahasiswa yang berlangsung di depan Gedung DPR MPR RI membawa keuntungan bagi pedagang asongan. 

Demo tanggal 24 September 2019 yang didatangi mahasiswa berbagai universitas, petani, buruh, dan beberapa kalangan masyarakat memberikan keuntungan kepada para pedagang asongan di wilayah sekitar. Hal ini tidak disangka oleh mereka yang berjualan di wilayah . Salah satunya Nur, seorang pedagang usia 43 tahun ini meraup untung hingga Rp 4 juta pada hari itu.

Nur, pedagang asongan yang berhasil meraup untung saat demo mahasiswa (24/09/2019) (Sumber: kompas.com)

Nur menjual air mineral dan mie instan kemasan pada hari itu. Nur membandrol air mineral seharga Rp 5.000 sedangkan mie instan kemasan Rp 15.000. Dikutip dari kompas.com, Nur telah berhasil menjual 200 mie instan kemasan dengan omzet  kotor Rp 4 juta.

Tidak hanya Nur, seorang pedagang minuman, Adrian juga merasakan keuntungan yang sama. Laki-laki berusia 36 tahun itu berhasil mendapatkan untung bersih Rp 1 juta pada saat demo berlangsung. Angka tersebut merupakan 10 kali lipat dari biasanya ia berjualan di Pasar Tanah Abang. Adrian menjajakan dagangannya di dekat flyover Slipi, tempat di mana banyak polisi dan masyarakat berkerumun. "Sudah biasa keliling saat demo begini. Gak takut saya, demi anak dan istri," kata Adrian dikutip dari idntimes.com.

Adrian, pedagang minuman sekitar flyover Slipi yang berhasil mendapatkan keuntungan saat demo mahasiswa (24/09/2019) (Sumber: idntimes.com)


Aksi yang dilakukan pada Selasa, 24 September 2019 diikuti oleh mahasiswa, buruh, petani, dan kalanngan lainnya. Mereka menyuarakan 7 tuntutan pada hari itu yang meliputi penolakan terhadap RKUHP dan beberapa RUU, penolakan pimpinan KPK baru, penolakan TNI & Polri menempati jabatan sipil, keadilan untuk Papua, penolakan kriminalisasi aktivis, penghakiman untuk korporasi yang menyebabkan Karhutla, dan penuntasan pelanggaran HAM. Demo mahasiswa yang berawal damai, diakhiri dengan kerusuhan yang diduga oleh oknum tertentu.

Sumber:
https://megapolitan.kompas.com/read/2019/09/24/16064201/untung-rp-4-juta-pedagang-asongan-ini-berharap-demo-mahasiswa-berlangsung
https://www.idntimes.com/news/indonesia/helmi/berani-berjualan-saat-demo-pedagang-gak-takut-saya-demi-anak-istri/full

Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Suasana acara COMPFEST 2019 di Balairung Universitas Indonesia (29/9/2019)
COMPFEST 2019 memberikan kesempatan kepada Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) yang baru merintis startup untuk diperkenalkan ke publik.

Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) berkesempatan untuk mengenalkan Startup karya mereka di acara puncak COMPFEST 2019. Setidaknya ada dua Startup karya mahasiswa UI yang ikut serta membuka booth di acara yang diselenggarakan pada 28-29 September 2019 di Balairung Universitas Indonesia tersebut. Sama seperti Startup yang sudah berdiri lama maupun menyandang gelar Decacorn maupun Unciorn, dua startup karya mahasiswa UI diperkenalkan ke publik dalam acara tersebut.

Salah satunya adalah startup bernama adavendor. Startup ini menyediakan fasilitas vendor untuk memenuhi keperluan acara. Belum setahun beroperasi, startup yang dibangun oleh mahasiswa FISIP ini sudah bekerjasama dengan 31 vendor, 8 talenta, dan 5 event organizer. Melalui acara COMPFEST 2019, adavendor dapat meningkatkan paparan mereka ke publik. Menurut Salvia Hidayat, Business Development adavendor yang masih menyandang status mahasiswa, COMPFEST membantu adavendor menemukan klien baru.


Salvia Hidayat, Business Development Adavendor memberikan penjelasan mengenai Adavendor (29/9/19)

Selain itu, terdapat startup karya mahasiswa UI lain bernama Mentoria Indonesia. Mentoria merupakan startup yang fokus kepada pendidikan khususnya pengembangan passion anak muda. Terdapat tiga kelas yang dapat diikuti sejak 10 bulan startup ini berdiri. Putra Prakoso, CEO Mentoria Indonesia yang merupakan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI, mengaku mendapatkan banyak respon setelah membuka booth di COMPFEST 2019


Putra Prakoso, CEO Mentoria Indonesia menjelaskan startupnya kepada pengunjung (29/9/2019)

COMPFEST 2019 merupakan acara yang diselenggarakan dari bulan Mei 2019. Salah satu tujuan dari acara ini yaitu memperkenalkan masyarakat terhadap teknologi informasi. Selain itu, mereka juga bertujuan memperkenalkan beberapa startup yang belum dikenal di masyarakat. Fadhlan Hafiz Permana, Ketua Acara COMPFEST 2019 menganggap edukasi teknologi informasi di Indonesia masih kurang sehingga acara ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat penting dan dekatnya teknologi informasi.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

“Ngangeni”. Itu lah satu kata yang dilontarkan Jaya Indra Hermawan, pemudik asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ketika ditanya mengenai kuliner khas di daerahnya. Rasanya yang ‘ngangeni’ atau ‘bikin kangen’ itu yang ia tunggu-tunggu dari mie combor, makanan khas Kraksaan. Jaya mengadu nasib di Malang. Setiap pulang ke Kraksaan saat momen lebaran, ia menyempatkan diri untuk makan mie combor. 




Sani, penjual yang menyebut dirinya sebagai generasi kedua dari peracik mie combor pertama, menyatakan kuliner ini sudah dihidangkan sejak tahun 1951. Peracik pertamanya bernama Siswono yang akrab dipanggil “Haji Siswo”. Sani menjelaskan kenapa kuliner khas Kraksaan itu dinamakan “mie combor”.




Menurut Sani, yang membuat mie combor berbeda dari jenis mie lainnya adalah proses memasak yang menggunakan arang. Ia tidak menggunakan kompor demi mempertahankan cita rasanya. Bumbu yang digunakan adalah merica, garam, bawang putih, dan kecap.


Proses awalnya adalah merebus mie beserta kecambah atau tauge dengan air di atas tungku arang. Setelah matang, wajan berisi rebusan mie itu dipindahkan ke panci besar.


Setelah itu ditaruh ke masing-masing piring untuk diberikan lauk tambahan berupa suwiran ayam dan telur asin.



Mie combor siap disajikan. Tersedia opsi untuk pelanggan. Jika ingin merasakan pedas, tinggal tambahkan cabai rawit yang ada di setiap meja. Kalau ingin tambah segar dan asam, tinggal ditambah perasan jeruk limau yang tersedia di setiap meja. 



Kita dapat menemui Warung Mie Combor Bu Sani di samping Alun-Alun Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Warung ini satu-satunya yang mempelopori mie combor. Satu porsi mie combor dipatok harga Rp12.000. Selama musim lebaran, harga mie combor tidak naik. Mereka mulai membuka warungnya dari pukul 17.00 sampai pukul 01.00 jika stok masih tersedia. Sani mengatakan, saat musim lebaran stok mereka habis pada pukul 23.00. Mie combor dapat dijadikan opsi ketika jenuh dengan makanan bersantan saat lebaran.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Sebelum memasuki libur lebaran, mahasiswa  Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia harus menghadapi Ujian Akhir Semester terlebih dahulu. Ujian Akhir Semester Ganjil ini dimulai dari tanggal 20 Mei sampai 31 Mei 2019. Untuk mahasiswa semester 6, tidak ada lagi bentuk ujian yang bersifat dikerjakan langsung di dalam kelas. Kini mereka mengerjakan UAS dengan bentuk take home atau dikerjakan di luar kelas. Pengerjaan ujian dapat dilakukan secara individu maupun kelompok tergantung dari perintah dosen.

Hasil pengerjaan ujian dikumpulkan ke dosen sesuai dengan waktu yang ditentukan. Waktu pengumpulan ujian tergantung dari kebijakan dosen kelas masing-masing. Terkadang dalam satu hari terdapat tiga ujian yang harus dikumpulkan. Dikarenakan ada tugas individu serta kelompok, masing-masing mahasiswa dituntut untuk dapat mengatur waktunya sebaik mungkin agar tidak keteteran. Ada dua tipe mahasiswa dilihat dari karakter pengaturan waktu dalam mengerjakan ujian. Pertama, mahasiswa yang mengerjakannya dengan cara mencicil dari jauh hari. Kedua, mahasiswa yang mengerjakan ujian dekat dengan batas waktu pengumpulan atau akrab disebut deadliner.

Talitha Eza, 20 tahun, mahasiswa peminatan periklanan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia mengaku sebagai tipe mahasiswa yang pertama. Ia sudah mencicil dua soal ujian dari delapan mata kuliah yang diambilnya semester ini. Menurutnya, dengan mencicil akan membuat dia lebih tenang karena masih ada tugas kelompok yang pengerjaannya bergantung pada ketersediaan waktu anggota kelompok lainnya. Jika ia harus kerja kelompok pada waktu yang mendadak, ia akan merasa tenang karena tidak perlu memikirkan lagi tugas individunya yang sudah selesai sebelumnya. Akan tetapi, Talitha pernah menjadi deadliner pada semester ini sebanyak dua kali. Ia merasa tidak tenang jika mengerjakan tugas dekat dengan batas waktu pengumpulan


Berbeda dengan Ruth Audrey, 21 tahun, mahasiswa peminatan hubungan masyarakat Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Ia sudah terbiasa menjadi deadliner. Bahkan, ia nekat mengerjakan ujian individu pukul 12.00. Padahal ujiannya paling maksimal dikumpulkan pukul 15.00 hari itu juga. Alasannya karena ia tidak berminat dengan topik ujiannya. Selain itu, pada hari yang sama terdapat tugas kelompok yang mengharuskannya menyingkirkan ujian individu. Menurut Ruth, ia terbiasa menjadi deadliner mengerjakan tugas dekat batas waktu. Ia merasa pola pengerjaan seperti itu sudah terbentuk sehingga akan lebih produktif jika menjadi deadliner. Ruth sering merasa menyesal dengan kebiasaannya, tetapi memutuskan untuk mempertahankan kebiasaan tersebut.


Jika dilihat dari perspektif psikologis, menurut Ellang Jaya, Junior Research di Kelompok Kesehatan Mental Komunitas Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, deadliner ini memiliki istilah prokrastinasi. Prokrastinasi merupakan perilaku menunda suatu pekerjaan, lalu melakukan perilaku yang sebenarnya tidak produktif. Perilaku ini merupakan cara untuk mengatasi (coping) stress. Ellang mengatakan ada dua jenis coping stress.


Ellang menambahkan, perilaku prokrastinasi ini dapat menimbulkan kecemasan sehingga menyebabkan performa yang tidak baik dalam mengerjakan tugas. Selain itu, prokrastinasi dapat menimbulkan perasaan bersalah karena ketidakpuasan terhadap hasil dari apa yang dikerjakan. Ia akan merasa tugas itu tidak sepenuhnya menggambarkan kemampuannya.

Agar tidak menjadi deadliner, ada beberapa cara yang dapat kita lakukan. Pertama, kita harus menyadari apa dampak dari perilaku itu terhadap kita. Kedua, ketika kita sadar bahwa perilaku itu merusak diri, kita harus meminta bantuan dan saran orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih tenang menjalani Ujian Akhir Semester maupun ujian-ujian lainnya.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Keramaian Bazaar Ramadhan di Pasar Benhil, Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat pada Sabtu, 18 Mei 2019

Pasar Benhil selalu menjadi tempat untuk mencari takjil setiap bulan Ramadhan. Bazaar Takjil Ramadhan rutin dilaksanakan setiap taunnya. Terletak di Jalan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, tempat ini menjadi salah satu pilihan para pencari takjil. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Jakarta saja khususnya di akhir pekan.  Anna, salah satu pengunjung dari Bogor, mencari takjil untuk menu berbuka puasa pada Sabtu, 18 Mei 2019.



Tidak hanya pembeli, para penjual pun berasal dari luar Jakarta. Salah satunya adalah Ahmad Yani. Penjual takjil ini datang dari Indramayu untuk menjual gorengan, kue, dan kolak baik masakan sendiri maupun titipan orang lain. Ia sudah 15 tahun datang ke Jakarta setiap bulan Ramadhan untuk ikut meramaikan bazaar takjil di Pasar Benhil. Menurutnya, akhir pekan menjadi keuntungan untuknya karena pengunjung yang datang lebih ramai dari hari biasa.



Harga takjil yang dijual mulai dari dua ribu rupiah sampai 15 ribu rupiah. Pilihannya bermacam-macam, mulai dari yang asin sampai manis. Tidak hanya takjil, banyak makanan berat yang dapat dibeli untuk persiapan makan malam maupun saat sahur. Jika berkunjung ke sini saat akhir pekan, bersiaplah untuk menghadapi keramaian pengunjung dari berbagai kota.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Studi IQ AirVisual mengenai kualitas udara di dunia menyatakan DKI Jakarta sebagai kota paling berpolusi di tahun 2018. Rata-rata harian kualitas udara ibu kota Indonesia pada tahun itu adalah 45,3 mikrogram per meter kubik udara. Angka tersebut melampaui  rata-rata harian kualitas udara normal yang ditetapkan World Health Organization (WHO) sebesar 25 mikrogram per meter kubik. Sebagian besar faktornya adalah emisi gas yang dikeluarkan alat transportasi.



PT. Transportasi Jakarta kemudian menggagas alat transportasi yang berbeda. Dua jenis transjakarta sebelumnya menggunakan bahan bakar solar dan gas. Kali ini, PT. Transportasi Jakarta mengeluarkan bis listrik dengan menggunakan baterai.  Direktur Utama PT. Transportasi Jakarta, Agung Wicaksono, memberikan penjelasan urgensi penggunaan bus listrik.





Pengenalan bus listrik transjakarta dilakukan di Car Free Day (CFD) di sekitaran Bundaran HI pada Minggu, 4 Mei 2019. Terdapat 2 unit bus listrik yang dapat dinaiki oleh pengunjung untuk melihat-lihat sekaligus bertanya kepada beberapa teknisi yang ada di acara tersebut. Salah satu teknisi, Indarto Sobari, membagikan informasi mengenai keunggulan dari bus listrik transjakarta.



Para pengunjung diberikan kebebasan untuk masuk ke dalam bus dan menikmati fasilitas yang tersedia. Salah satu pengunjung, Alif, memberikan impresi saat pertama kali menaiki bus listrik.



Bus listrik akan melaksanakan masa uji coba jika Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) sudah keluar. Masa uji coba akan dilaksanakan selama 6-12 bulan. Rute uji coba bus listrik yang diusulkan adalah Koridor 1 (Monas - Bundaran Senayan) dan Koridor 6 (Ragunan - Kuningan) dengan jam operasional pukul 05.00 - 22.00 WIB.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

About me


Welcome to my page. As a journalism studies student, i post my writings here. Feel free to discuss about topics on my writings. Cheers!

Popular Posts

  • Yang Ditunggu Saat 'Pulang' ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur
    “Ngangeni”. Itu lah satu kata yang dilontarkan Jaya Indra Hermawan, pemudik asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ketika dita...
  • Beda Manajemen Sampah Tiap Fakultas di UI Sebabkan Inefisiensi Pengolahan Sampah
    Masing-masing fakultas di Universitas Indonesia memiliki regulasi yang berbeda dalam manajemen pemilahan sampah. Hal ini dapat berpengaruh...
  • Unjuk Startup Karya Anak UI di COMPFEST 2019
    Suasana acara COMPFEST 2019 di Balairung Universitas Indonesia (29/9/2019) COMPFEST 2019 memberikan kesempatan kepada Mahasiswa Univ...

Beda Manajemen Sampah Tiap Fakultas di UI Sebabkan Inefisiensi Pengolahan Sampah

Search This Blog

recent posts

Blog Archive

  • December 2019 (2)
  • November 2019 (2)
  • October 2019 (3)
  • September 2019 (2)
  • June 2019 (1)
  • May 2019 (3)
  • April 2019 (2)
  • March 2019 (3)

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Report Abuse

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates