• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
facebook twitter instagram pinterest Email
Powered by Blogger.

/ha●la●man/

Zarry Hendrik (kiri) sebagai pembicara dalam lokakarya penulisan kreatif di Falasido UI Jilid XIII (28/10/2019)


Penulisan kreatif merupakan salah satu rangkaian Falasido UI Jilid XIII dengan mengundang penulis Indonesia, Zarry Hendrik

Menyambut Bulan Bahasa dan Sastra, mahasiswa Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Kebudayaan (FIB) UI mengadakan lokakarya penulisan kreatif di rangkaian akhir Festival Bulan Bahasa Indonesia UI (Falasido UI) Jilid XIII. Pembicara yang diundang yaitu Zarry Hendrik, seorang penulis dan pendiri Kapitulis, suatu jasa rangkai kata.

Lokakarya diselenggarakan di Auditorium Gedung X FIB UI Lantai 3 pada Jumat, 25 Oktober 2019. Zarry membuka lokakarya dengan memperkenalkan diri dan menjelaskan dasar dari penulisan kreatif. 

Dikutip dari kanetindonesia.com, penulisan kreatif adalah teknik menulis tentang kebenaran dengan daya imajinasi kritis serta gaya tutur khas sehingga menghasilkan karya yang enak dibaca. Begitupun yang dikatakan Zarry pada saat lokakarya berlangsung. Imajinasi menjadi hal fundamental dalam menulis kreatif. Menurutnya, imajinasi juga diikuti oleh hal-hal yang logis.

Selain menjelaskan gambaran besar mengenai penulisan kreatif, Zarry mengajak peserta untuk mulai menulis. "Dengan mulai menulis, seseorang dapat menemukan gaya kepenulisannya," jelas Zarry. 
Memulai menulis untuk penulisan kreatif dapat dilakukan melalui medium yang sering kita jumpai, misalkan media sosial. Kita dapat menuangkan tulisan melalui caption. Akan tetapi, penulisannya harus sesuai dengan kepribadian kita yang sebenarnya, tidak meniru orang lain.

Peserta lokakarya penulisan kreatf di Auditorium Gedung X FIB UI Lantai 3 (25/10/2019)

Selain lokakarya penulisan kreatif, Falasido UI menyelenggarakan beberapa kegiatan lain seperti menulis di daun lontar, seminar bahasa isyarat dan malam apresiasi puisi. Falasido UI diadakan untuk menyambut Bulan Bahasa dan Sastra yang lahir dari Sumpah Pemuda. Acara ini diselenggarakan pada 21-25 Oktober 2019.

"Tema Falasido UI tahun ini yaitu warna warni kita pembentuk identitas bangsa. Apa yang menjadi perbedaan kita itu membentuk identitas kita sebagai sebuah bangsa. Kita seragam karena beragam," kata Ketua Falasido UI Jilid XIII, Rahmat Fadhilah (20) saat diwawancara. Menurut Rahmat, turunan tema tersebut pada penulisan kreatif adalah banyaknya media  yang beragam untuk menyampaikan pesan, akan tetapi ada satu platform digital yang dapat digunakan untuk menyampaikan sebuah pesan berkaitan dengan penulisan kreatif.

Keywords:
- Bulan Bahasa
- Kreatif
- Falasido
- UI


Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Pameran karya Hari Seni Rupa FISIP UI 2019 di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan. (11/10/2019)


Di tahun kedua penyelenggaraannya, Hari Seni Rupa FISIP UI 2019 mengangkat isu mengenai konformitas.

Mengaku resah dengan tuntutan sosial terhadap perempuan, Lovea Maharani, 21 tahun, menyalurkannya dalam suatu instalasi yang ia beri nama “Satu Paket Puas Insekuritas Perempuan!” di pameran karya Hari Seni Rupa 2019. Instalasi dengan mayoritas warna merah muda ini menampilkan beberapa benda kebutuhan perempuan seperti pembalut, celana dalam, pil KB, alat tes kehamilan, dan alat kontrasepsi. Mahasiswa jurusan Sosiologi FISIP UI itu menganggap masyarakat memiliki persepsi yang berbeda ketika melihat perempuan membeli benda tersebut.


Karya instalasi "Satu Paket Puas Insekuritas Perempuan!" oleh Lovea Maharani, Mahasiswa Sosiologi FISIP UI (11/10/2019)

Tidak hanya karya Lovea, terdapat 10 karya lain yang dipamerkan dalam acara tersebut. Hari Seni Rupa 2019 merupakan acara seni yang diselenggarakan oleh BEM FISIP UI 2019. Seluruh karya merupakan hasil dari tangan mahasiswa FISIP UI yang telah mengikuti proses seleksi dan kurasi dari rangkaian acara Hari Seni Rupa 2019. Acara puncaknya yaitu pameran karya yang diselenggarakan pada di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan.


Sudah memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, Hari Seni Rupa tetap pada keyakinan bahwa dengan seni rupa, kita dapat menyampaikan ide dengan berkarya melalui berbagai medium. Berbeda dengan tahun sebelumnya, tahun ini membawa tema “Refleksi diri Akan Konformitas”, sehingga pembuat karya diharapkan dapat merefleksikan apa yang ia rasakan terhadap konformitas. Nanda Flashiela, Ketua Pelaksana Hari Seni Rupa 2019 yang merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UI menjelaskan mengapa konformitas menjadi tema yang diangkat pada Hari Seni Rupa 2019.


Sebelum 11 karya mahasiswa FISIP UI dipamerkan, mereka harus melalui tahap seleksi dan kurasi. Tahap seleksi dilakukan pada awal Mei 2019 dengan menyebarkan formulir berisi pertanyaan terhadap peserta mengenai tema yang diangkat. Setelah itu, mereka melakukan proses wawancara. Tidak ada yang tereleminasi dalam proses seleksi karena tujuan acara ini untuk memperkenalkan seni rupa kepada mahasiswa FISIP yang ingin belajar.

Karya Iona Savalidea (Kiri) dan Abdul Razzak (Kanan) dalam pameran karya Hari Seni Rupa 2019 (11/10/2019)

Setelah itu, para pembuat karya melakukan proses kurasi bersama  Oky Arfie Hutabarat, seorang seniman dan dosen di Institut Kesenian Jakarta. Proses kurasi dilaksanakan dari bulan Mei 2019. Lovea mengaku proses ini membuatnya berani untuk berkarya tanpa membatasi dirinya dan orang lain dalam menginterpretasikan karyanya.

Pameran Hari Seni Rupa 2019 dilaksanakan pada 11-13 Oktober 2019 di Hadiprana Art Centre, Jakarta Selatan. Pameran ini menunjukkan hasil karya mahasiswa FISIP setelah melalui proses selama 4 bulan. Acara ini terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya.



Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Salah satu adegan dalam pentas "Gandareva" di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)

Teater Paradoks FISIP Universitas Indonesia (UI) kembali menyelenggarakan pentas tunggal tahunan. Kini bertajuk "Gandareva".

Krisis eksistensialisme, itulah isu yang diangkat pentas tunggal "Gandareva" oleh Teater Paradoks FISIP UI tahun ini. Pentas yang sudah dipersiapkan sejak bulan Desember tahun lalu itu diselenggarakan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Rabu, 2 Oktober 2019. Para pemeran yang beradu akting di atas panggung maupun kru merupakan mahasiswa FISIP UI dari berbagai angkatan.

Tepat pukul 8 malam, pementasan diawali dengan adegan seorang suster gereja memimpin doa sekelompok orang, dari yang masih muda sampai yang paling tua di suatu rumah singgah katolik. Tidak ada suara bising, semua fokus berdoa dengan khidmat. Doa selesai. Semua beraktivitas seperti biasa kembali. Ada yang ke dapur untuk minum, ke kamar untuk tidur, dan bersantai sambil bercanda di ruang tengah. 

Semua berubah saat seorang pendonor dana bernama Bisma datang ke rumah singgah. Suasana rumah tidak seperti biasanya, terjadi keributan antar anggota bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Ternyata Bisma memiliki tujuan lain untuk datang ke rumah itu, "mengambil" Amanda. Dia bukanlah manusia, melainkan Genderuwo yang berwujud manusia.

Cerita "Gandareva" terinspirasi dari krisis eksistensialisme dalam lingkungan mahasiswa yang masih belum memahami mengapa mereka ada. Berkaitan dengan isu sosial politik, krisis eksistensialisme yang dekat dengan masalah identitas diri menjadi masalah yang diangkat. 

Unsur horror yang ada dalam pementasan merupakan gambaran yang mewakili rasa ketakutan. Encik Ibnussabil, Pemimpin Produksi Pentas "Gandareva" memberikan penjelasan lebih lanjut




Adegan Amanda (Joan Amanda) mengancam Bisma (Muhammad Galih Aprian) (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)

Pementasan ini juga dinikmati oleh beberapa kalangan. Salah satunya adalah Bintoro Anjar Riadi, 22 tahun, seorang mahasiswa FISIP UI. Menurutnya, pesan yang disampaikan pentas ini sesuai dengan apa yang ia dapatkan di kelas


 

Para pemain pentas "Gandareva" yang merupakan mahasiswa FISIP UI. (02/09/19) (FOTO/Azkiya Karima)
Teater Paradoks FISIP UI setiap tahunnya mengadakan pentas tunggal untuk dapat dinikmati oleh publik. Pentas "Gandareva" adalah pentas ke-21 yang telah berhasil diselenggarakan oleh Teater Paradoks FISIP UI.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me


Welcome to my page. As a journalism studies student, i post my writings here. Feel free to discuss about topics on my writings. Cheers!

Popular Posts

  • Yang Ditunggu Saat 'Pulang' ke Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur
    “Ngangeni”. Itu lah satu kata yang dilontarkan Jaya Indra Hermawan, pemudik asal Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur ketika dita...
  • Beda Manajemen Sampah Tiap Fakultas di UI Sebabkan Inefisiensi Pengolahan Sampah
    Masing-masing fakultas di Universitas Indonesia memiliki regulasi yang berbeda dalam manajemen pemilahan sampah. Hal ini dapat berpengaruh...
  • Unjuk Startup Karya Anak UI di COMPFEST 2019
    Suasana acara COMPFEST 2019 di Balairung Universitas Indonesia (29/9/2019) COMPFEST 2019 memberikan kesempatan kepada Mahasiswa Univ...

Search This Blog

recent posts

Blog Archive

  • December 2019 (2)
  • November 2019 (2)
  • October 2019 (3)
  • September 2019 (2)
  • June 2019 (1)
  • May 2019 (3)
  • April 2019 (2)
  • March 2019 (3)

Follow Me

  • facebook
  • twitter
  • instagram

Report Abuse

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates